Kamis, 08 September 2016

Chapter 2 - Pendidikan Sebagai Bekal Untuk Menggapai Masa Depan

SEMPURNA
Don’t wait the perfect moment, take the moment and make it perfect.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

CHAPTER 2 
PENDIDIKAN SEBAGAI BEKAL UNTUK MENGGAPAI MASA DEPAN

Yang dikhawatirkan adalah tentu saja bagaimana aku bisa mengikuti pelajaran disekolah? Tidak harus mendapatkan ranking 10 besar. Tetapi setidaknya jangan sampai tertinggal kelas. Itu pesan mamaku.

Orangtuaku berfikir sangat keras, karena ada yang merekomendasikan agar aku pindah ke Sekolah Luar Biasa, alasannya agar aku mendapatkan penanganan sesuai keadaanku.

Mama menolak, karena menurut pandangannya, manusia itu tidak ada yang berbeda, semuanya sama saja.yang berbeda adalah tujuan hidupnya. Tujuan mamaku saat itu adalah aku berhak mendapatkan pendidikan yang sama, teman yang sama, kesempatan yang sama, agar kedepannya aku menjadi perempuan mandiri tanpa harus saling membedakan. Akhirnya, mama mempertahankan aku sekolah di sekolah umum dengan segala resiko.

Solusi agar aku tidak ketinggalan pelajaran dan harus tetap naik kelas adalah harus belajar lebih ekstra dibandingkan teman lainnya!.

Maka dari itu, aku harus mendapatkan pelajaran tambahan setiap pulang sekolah dengan guru private yang dipanggil kerumah. Maksudnya agar aku tetap bisa mempelajari apa yang diajarkan disekolah dan mempersiapkan mata pelajaran berikutnya.

Supaya tidak bosan, mama emcoba kreatif setiap hari. Jadwal seminggu full, menggabungkan kursus pelajaran formal dengan apa yang aku suka, yang penting kelak akan berguna saat aku dewasa.

Aku masih ingat jadwal yang super padat pada waktu itu,:
  • -       Senin : Les private (matematika, sejarah, dan teman-temannya)
  • -       Selasa : Sanggar tari (yup! Aku suka sekali menari)
  • -       Rabu : Les Private (lagi!)
  • -    Kamis : Menari modern & daerah (walaupun tidak bisa mendengar lyric tapi aku menikmati alunan musik)
  • -      Jumat : Ngaji
  • -      Sabtu : Boleh main kemana saja dengan teman-teman
  • -       Minggu : Istirahat.


Booo! Padet juga ya. Mama sengaja dengan jadwal seperti itu. Supaya aku tumbuh menjadi anak yang aktif. Itu kelihatan sekali hasilnya hingga sekarang. Aku terbiasa mengatur jadwal. Saking sibuknya, aku justru jadi lebih berkurang komplain mengenai keterbatasan mendengarku dengan diisi hal-hal yag bermanfaat.

Kita akan menjadi lebih pintar dengan membaa buku, tetapi kita akan menjadi lebih bijak dengan pengalaman yang kita punya.



Saat SMP & SMA, aku upgrade kursusnya dengan bahasa inggris, walaupun sulit di ‘listening & conversation skill’, tapi aku belajar grammar, suapaya bisa mendukung mata pelajaran disekolah. Itu karena semata-mata aku takut jika tidak naik kelas, kebayang kan malunya kalau sampai terjadi. Demi menghindar anggapan negatif orang menegnai aku, sudah tidak bisa mendengar, jadi jangan ditambah tidak bisa apa-apa hanya karena tidak naik kelas.

Disaat teman-teman lainnya bisa puas bermain, tidak begitu denganku. Aku harus melanjutkan belajar. Effort yang gak sedikit demi lulus dan membanggakan diri sendiri serta orangtua.

Terbukti, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Aku naik kelas terus dan lulus sekolah dari TK – SD – SMP – SMA. Bagaimana dengan kuliah?


Saat menjelang masuk ke perguruan tinggi, aku mendadak bimbang. Karena, aku pada saat itu tidak punya mimpi yang sepsifikk demi masa depan. Aku tidak punya bayangan apapun, karena keterbatasan yang aku miliki aku merasa lebih terbatas juga dalam menggapai mimpi.

Dulu ya saat aku kecil, aku pernah berangan-angan menjadi sosok perempuan yang elegan, menggunakan heels, blazer, berjalan anggun, dan duduk dikursi yang empuk tentunya kursinya bisa berputar-putar.


Setelah dipikir-pikir, jikalau angan-angan seperti itu. Jadi apa ya? Jelas perempuan bekerja! Iya bekerja!. Caranya gimana? Ya, tentu saja sekolah setimggi yang aku mampu.

Tidak ada sedikitpun rencana matang aku menyampaikan keinginan untuk mengambil kuliah jurusan komunikasi. Keputusan yang sangat kontradiktif sekali, karena ‘sudah tau tidak bisa mendengar & memilih kuliah komunikasi?’ tidak ada yang mendukungku pada saat itu.

Sebenarnya, alasan aku memilih komunikasi bukan cita-cita, bukan juga dorongan dari siapapun. Tapiiiiiiii, karena aku tidak ingin ketemu matematika dan teman-temannya yang berhitung dengan angka ;p hehehe aku nyerah, merasa bukan bakatku disitu.
Memasuki perguruan tinggi ternyata butuh usaha, mengikuti tes di beberapa perguruan tinggi ternama, selalu seperti itu. Dari sekian banyaknya aku tes, interview, dan beberapa yang lolos. Aku memilih ‘the London School of Public relations’ berdasarkan rekomendasi teman-teman Bapakku yang mengatakan sekolah komunikasi swasta yang bagus dijakarta.

Awalnya takut, sulit. Tapi ternyata secara perlahan. Aku menikmatinya. Lingkungan baru, teman abru, pelajaran baru, pengajar baru, dan segala macamnya baru yang membuat aku menikmatinya.

Dari sekolah komunikasi ini ternyata banyak sekali ilmu yang aku peroleh, justru dimulai dari sini, jalan terbuka untukku terbuka. Kembali dingat-ingat lagi mengenai pelajaran yang bermanfaat buatku.

BELAJAR TENTANG PERSONAL BRANDING



Suatu ketika, saat pelajaran usai, aku mendatangi seorang dosen yang sedang membereskan perlengkapannya dan hendak meninggalkan kelas. Aku buru-buru menghampiri beliau.

“Bu..Ibu..hmmm bolehkah aku berdiskusi?’ tanyaku sambil berlari

tanpa direncakan, tanpa diduga aku malah gak kuat menahan air mata. Aku menangis. Ibu dosenpun bingung.

“Ada apa nak? Kamu baik-baik saja? Kenapa kamu menangis?”, beliau bertanya dengan heran.

Perlahan aku mulai menjelaskan, “Aku..aku gak sanggup bu. Mengikuti mata kuliaiih Iby dan tugas yang Ibu berikan, seperti berpidato didepan kelas. Berat bu, sangat berat. Bolehkah saya ijin untuk tidak mengikutinya?”

“Kamu kenapa?kalau kamu tidak mengikuti tugas itu, kamju tidak akan mendapatkan nilai, dan tentu saja kamu akan gagal dimata kuliah saya ini”, pernyataan beliau ini justru membuatku semakin takut.

“Bu.. aku trauma. Karena pernah dianggap dan dipandang hina oleh banyak orang, karena…. Karenaaa itu karena saya tidak bisa mendengar. Saya memiliki masalah pendengaran.” ujarku lirih sambil menunjukkan alat Bantu dengar dari kedua telinga. Sesaat kemudian, airmataku semakin deras mengalir membasahi pipi, karena untuk membicarakan seperti ini  butuh keberanian sangat besar.



Mendengar penjelasanku, beliau hanya tersenyum dan dengan tenang, “ Angkie, kenapa kamu harus malu? Tunjukkan saja kepada orang lain. Jujur kepada orang banyak, termasuk teman-temanmu. Siapa kamu sebenarnya, dan apa yang terjadi denganmu. Jangan malu”.

“kenapa harus jujur bu? Apakah tidak apa? Nanti kalau saya semakin dihina bagaimana?”.

“kalau kamu percaya dengan diri kamu sendiri, saya yakin mereka akan memberikan apresiasi atas usaha kejujuran kamu”.

Dengen percakapan ini, aku diam seribu bahasa. Ternganga. Bagaimana mungkin aku bisa mengumpulkan keberanianku, mengatakan yang sebenarnya di depan kelas. Aku malu.

Tidak lama kemudian, dosenku menambahkan “Tidak ada salahnya jika kamu mau mencoba. Kamu bisa berlatih didepan cermin. Latih bicara kamu, bagaimana bahasa tubuhmu, tatapan matamu saat memandang sudiences. Saya yakin kamu bisa. Kamu hanya harus emmeprcayai dirimu”.

Sekejab aku mendapatkan pencerahan. Suntikan semangat. Orang lain saja percaya dengan diriku, kenapa aku tidak? Itu karena aku terlalu takut untuk melawan ketakutan dalam diri aku, maka aku harus bisa. Harus bisa. Harus bisa.

Seminggu kemudian, aku mengikuti tips dan trik dari Ibu dosenku itu. Saat namaku dipanggil, aku sempat gemeteran, ketakutan, tapi aku coba untuk menenangkan diri dengan meengatur napas dan memegang (bahkan menggengam) pulpen dengan keras. Tapi justru itu sangat membantu.

“Assalamualaikum wr.wb.. Selamat siang semua. Perkenalkan saya angkie yudistia, sebelum saya melanjutkan pidato ini. Ada yang ingin saya sampaikan bahwa sebenarnhya saya memiliki keterbatsan mendengar. Sehingga saya harus menggunakan alat Bantu dengar. Hari ini saya akan menjelaskan tugas kita…… bla …. Bla… bla… bla…bla… demikian saya sampaikan dan saya ucapkan terima kasih banyak. Walaikumsalam wr.wb”.

Kelas memang mendadak hening, bengong, tapi tidak lama kemudian… tepuk tangan meriah yang aku dapatkan!.

Aku tersenyum. Ketakutanku terbukti salah. Ibu Dosen benar. Orang lain akan mengapresiasikan kejujuran kita, ketika kita sendiri sudah ikhlas menerima keadaan diri kita apa adanya. Dari jauh eku melihat Ibu Dosenku, beliau ternsenyum dan semabari tepuk tangan. Aku lalu menghampirinya, menyalaminya, dan mengucapkan “Ibu, terima Kasih banyak”.

Hari demi hari, aku semakin percaya diri dengan mengungkapkan jati diri yang sebenarnya. Semakin banyak orang mengetahui keadaanku,

“oh, Angkie yang tunarungu”
“Angkie yang tidak bisa mendengar”

Bukan sesuatu yang buruk, tapi aku menyukainya. Karena teman-temanku semakin banyak. Lalu, hal itu yang membuatku merasa ingin menciptakan Personal Branding yang lebih bagus lagi. Aku berfikir tentang “oh, Angkie yudistia, yang tunarungu itu, lulusan S2 komunikasi “. Gimana? Menarik gak dengan pernyataan itu?.

Maka, ketika di kampus ada program akselerasi S2 yakni, program percepatan S1& S2 selama 5 thun saja. Aku langsung ambil. Ikut testnya, dan lolos! Syaratnya adalah IPK minimal 3,00. Aku lihat IPK ku adalah 3,50 jadi amaaaannn ya.

Berat gak menjalani itu? Saat semester 7 di S1, aku harus mulai kuliah S2. TENTU SAJA SANGAT BERAT. Apalagi waktu kayaknya gak habis-habis diisi dengan perkuliahan. Aku menikmatinya, karena ini juga didikan mamaku, dari SD aku terbiasa dengan mengatur jadwal padat, jadi saat kuliah aku jadi terbiasa.

Berani mengambil keputusan jangan setengah-setengah, jadi harus dijalani sampai akhir. Pada waktu wisuda S1 pada tahun 2009 dan tahun berikutnya 2010 aku wisuda S2. Mama, Bapak tidak pernah absen mengantarkan aku. Walaupun bukan luluasan terbaik, tapi aku berhasil. Aku bahagia, telah berjanji tidak menyerah disaat kesulitan.

Terwujud sudah keinginan Personal Brandingku,
Angkie Yudistia. Seorang Tunarungu. Lulusan S2 dari Marketing Communication.




…………..


Chapter 3 Berikutnya aku akan bahas mengenai pertempuran hidup menggapai mimpi yang sesungguhnya dan melewati banyak hal untuk bisa mandiri secara finansial walaupun terbatas. Ditunggu ya 

CHAPTER 1 - Everybody here has a problem, noboday here is perfect

SEMPURNA
Don’t wait the perfect moment, take the moment and make it perfect.
-----------------------------------------------------------------------------------


CHAPTER 1
Everybody here has a problem, noboday here is perfect

Menulis menjadi hal yang menyenangkan buatku. Yup! Sebelum tulisan ini diketik, aku menulisnya terlebih dahulu dengan sebuah pulpen favorit dan sebuah buku. Hal ini aku lakukan untuk mencari arti kesempurnaan. Tiap moment yang aku lewati, tiap emosi yang aku rasakan, itu semua bisa menjadi inspirasi aku.

Aku mengingat dengan jelas bagaimana aku memulai semuanya, hingga bisa menjadi seperti saat ini. Seorang Angkie Yudistia, sebagai perempuan tunarungu menembus batas, seperti judul buku pertamaku waktu 2011.

Aku pernah menjadi manusia normal seutuhnya, dengan kesempurnaan indera. Tanpa harus merasa menanggung malu. Menjadi anak yang selalu mendapatkan kasih sayang dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Hingga pada suatu hari, diumurku yang 10 tahun entah mengapa setiap hari aku selalu menjadi pusat kemarahan guru dikelas. Itu karena aku tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Aku merasa bingung dan merasa sangat bodoh karena tidak bisa menjawab pertanyaan itu, misalnya pertanyaan matematika, pengetahuan umum, dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Dan saat itu juga, gelak tawa seisi kelas masih sangat membekas dibenakku. Tidak pernah sekalipun aku dibela baik oleh guru bahkan teman-teman. Sampailah pada saat orangtuaku dipanggil untuk menghadap wali kelas dan kepala sekolah.

“Ibu, mohon diketahui bahwa sepertinya anak ibu memiliki permasalahan dengan pelajarannya. Tidak bisa menyimak dan mengerti dengan cepat apa yang saya sampaikan dikelas’, begitulah laporan seorang wali kelas.

Sebagai seorang ibu yang merasa dirinya selalu menjaga dan mengasuuh anak dengan sangat hati-hati, tentu saja dijawab dengan yakin.

“Selama ini, anak saya baik-baik saja Pak!. Tidak mungkin anak saya tidak bisa mengikuti pelajaran!”. Bela mamaku.

“Coba ibu tambahkan waktu belajar dirumah dan anak ibu lebih intens berkomunikasi” saran dari kepala sekolah.


Mama hanya terdiam dan tidak bisa menjawab lagi. Pikirannya terlalu sibuk, apa yang terjadi denganku. Dan harus mencari jawaban dengan keganjilan ini.

Mama adalah sosok wanita yang tegar menurutku. Tidak menganggap segala sesuatu dengan panik. Jadi, sesampai dirumahpun mama tidak menanyakan apapun kepadaku.

Tapi, seingatku dulu aku pernah menyampaikan beberpa kalimat curhat ke beliau, “Ma, aku selalu dimarahin guruku hampir setiap hari. Katanya aku selalu tidak bisa mengikuti pelajaran dikelas”.

Sontak mama langsung kaget!. Karena apa yang dibicarkaan guru dan kepala sekolah, sama dengan apa yang dirasakan aku. Sama persis.




Mulai Mencari Tahu

Hari-hari terus berlalu, keadaan mulai semakin tidak membaik. Aku menjadi sosok yang pemarah. Gak tau kenapa. Dan bahkan beberapa kali pernah kepergok menangis. Setiap ditanya, akupun sendiri tidak memiliki jawaban, karena akupun tidak pernah mengerti apa yang sedang terjadi dengan diriku sendiri.

Aku ingat sekali, setiap hari minggu adalah hari favoritku, dimana banyak film favorit ditayangkan di TV. Aku menyukai film “Candy” (anak generasi 90-an pasti tau ya!). aku selalu bernyanyi sendiri pada saat film itu dimulai. Tapi, pada satu hari aku meminta tolong mama untuk dituliskan lyric lagu-nya disebuah kertas, akupun langsung menyodorkan sebuah pensil dan kertas ke mama. Tapi ternyata mama tidak meng-iyakan!. Aku kesal, dan merebut kembali pensil dan kertas itu untuk aku menulis sendiri saja.

Tetapi, hati ini terasa sesak, aku memang bisa mengikuti nada, tapi aku tidakbisa mengikuti lyric-nya. Seketika aku berteriak! Kesal! Menjerit! Menangis!. Hingga mama dan seisi rumah kaget, karena aku tidak seperti biasanya.

Saat ditanya, aku menjawab “Kan  aku tadi meminta tolong mama! Minta tolong mama untuk dituliskan lagunya Candy. Tapi mama gak mau nolong aku! Aku coba nulis sendiri, tapi aku gak bisa, mama! Aku tidak tau apa yang dinyanyikan di film itu!” sambil berlinang airmata, aku mencoba menjelaskan.

Mamaku bingung. Ada yang salah dengan anaknya. Tapi apa?, kenapa?, bagaimana bisa?, apa yang harus dilakukan?, harus kemana?.

Diusiaku 10 tahun, duduk dikelas 4 SD. Seharusnya masa-masa itu adalah masa menyenangkan untuk anak-anak berseragam merah putih. Aku justru kebalikannya, hidupku merasa berubah. Berubah yang tidak pernah tau apa yang sedang terjadi.

Begitupun dengan Bapakku, yang mencoba memanggilku. Tapi tidak merespon. Sama sekali tidak.

………..

Pada saat itu, sekitar tahun 1997-an, Hp dan internet tidak semudah sekarang. Jadi satu-satunya mencari informasi adalah dengan mencoba mencari informasi dengan telepon saudara-saudari untuk bertanya, membaca Koran, dan mencari informasi dari TV.

Orangtuaku memutuskan untuk membawa ke dokter THT hasil dari mendapatkan informasi yang aku jelaskan sebelumnya. Dulu, rumah sakit St. Corolus - Jakarta adalah rumah sakit yang paling bagus. Maka, telingaku diperiksa dengan audiogram, yakni sebuah alat untuk mengecek pendengaran. Setelah itu ada tes pendengaran manual dengan mengikuti apa yang dokter katakan.

Dokter itu mulai mengucapkan kata-kata dan aku harus mengikutinya, seperti:
'Kucing',
'Kelelawar',
'Sekolah',
'Rumah',
'Sepatu',
'Pohon'.

Mataku berkaca-kaca, ga ada satupun kata yang bisa diucapkan kembali olehku. Aku menahan nangis, kenapa bisa begini?

Lalu, hasilnya?

Dokter mengatakan bahwa aku memiliki masalah pendengaran. Untuk yang mengerti hasil audiogram, dimana level pendengaran normal sekitar 0-40 desible. Dan saat pertama kali di cek, pendengaranku di level 70db untuk kiri dan 69db untuk kanan. Yang artinya aku mengalami masalah pendengaran yang walaupun belum terlalu parah dan masih mendengar beberapa suara di level tertentu.
(for our information, itu tahun 97 dan sekarang tahun 2016 level pendengaran aku sudah 100 db untuk masing-masing telinga, dan mengalami tuli berat).


Air mata mamaku berlinang, Bapakku menenangkan, aku? Masih tetap bingung. Lagi-lagi tidak tau apa yang sedang terjadi.

Dokter menyarankan aku untuk menggunakan alat Bantu dengar, dengan tujuan agar bisa memaksimalkan suara-suara sekitar dan menjaga agar syarafku tetap selalu bergetar agar desible nya tidak semakin parah.

Alat itu memang langsung dibelikan orangtuaku. Apakah aku memakainya?  TIDAK! Karena aku MALU! Aku harus bilang apa saat ditanya orang? Aku benar-benar tidak siap!


.........


NEXT TO : CHAPTER 2 - PENDIDIKAN SEBAGAI BEKAL UNTUK MENGGAPAI MASA DEPAN


2016! The new stories of my BLOG ❤️



 

Kembali ke masa-masa terberat untuk memahami diri sendiri. Ada kalanya aku mencoba untuk meraba mulai dari mana untuk ikhlas terhadap diri sendiri dari hal yang tidak pernah aku tahu dari mana mulanya. 

 

Malam terasa panjang dan begitu hening. Tidak dapat aku raba berbagai macam suara. Tidak lagi aku dengar hujan yang menjatuhi tanah. Semua terasa datar dan percuma, tidak ada lagi suara yang biasa menghantarkan bahagia melalui nada.

 

Pasti ada maksud lain, mengapa takdir membawaku pada keterbatasan. Aku masih diberi akal, aku memiliki mata yang sempurna, aku memiliki bibir yang masih digunakan untuk menyampaikan hati.

 

Sampai pada suatu hari, sampailah aku pada titik dimana konsep sempurna dan tidak sempurna hanya dibatasi sudut pandang dan tidak pernah mutlak.

 

Aku harus menysukuri setiap anugerah yang tersisa untuk dapat dibagikan kepada orang lain. Karena aku tahu tidak akan mampu untuk memberikan bahu dan telinga untuk memahami sekitar, maka aku harus menggunakan mata untuk “mendengar”.

 

Bukan hal yang mudah , tapi juga bukan hal yang mustahil.

 

Aku sempurna dengan berbagi. Detik ini pula telah aku teguhkan pengabdian untuk berbagi kebahagiaan, suka, duka, lara, dan mimpi.

 

Kesempatan itu datang kepadaku, kesempatan untuk melihat dan mensyukuri berbagai macam hal tidak hanya dari sisi yang sempurna, tapi dari sisi menyempurnakan yang tidak sempurna. 

 

Ibuku pernah berkata, “Kebahagiaan ada ditanganmu, nak. Bukan ditangan atau pendapat orang lain. Dunia tidak akan bisa menghentikanmu jika kamu terus mencoba untuk melangkah”.

 

Hidup bukanlah tentang bagaimana menemukan jati diri kita, tetapi bagaimana menciptakan diri kita yang sebenarnya.


Melalui Blog ini dari Chapter ke chapter berikutnya. yuk! Kita berdamai dengan keadaan diri kita dan ciptakan jati diri. Perlahan tapi pasti, karena setiap orang pasti memiliki kisah hidupnya.

 

 

XOXO

Angkie Yudistia


Selasa, 10 Maret 2015

I couldnt hear my baby crying loud


Have you ever imagined. having a baby girl on your arms, but you couldnt hear her crying loud. I mean you couldnt hear anything. thats me! i just could see experession on her face, even tough I sleep or reading a book or busy with my smartphone to check the works, i reeeaaalllyyy couldnt hear her crying. Im sooo sorry baby K. 

aku memang bisa menggunakan hearing aids, tapiii jika digunakan setiap saat aktifitas setiap hari malah membuat gak nyaman bahkan sakit kepala. 

anyway,am I ever cried with this situation? of course!  tapiii, dengan berjuang untuk ikhlas, perlahan aku mulai membiasakan. 

karena pernah 1 malam aku nangis, ternyata baby K juga ikutan nangis jerit2, aku panik. suami panik. akhirnya baby K di gendong mamaku, dan aku berusaha untuk tenang. 







well, setelah aku pikir2, kalo aku drop, baby K akan sedih. jadii hadirnya baby K ini, justru menjadikan aku perempuan tangguh. terima kasih bidadari kecil. 

 

In the eyes of Baby K...there is joy, there is laughter... there is hope, there is trust, a chance to shape the future...

Senin, 09 Maret 2015

sempurnanya melahirkan bidadari kecil :)


Rasa itu masih ada, rasa saat melahirkan seorang bidadari kecil yang bernama Kayla Almahyra Prasetyo. Yang artinya adalah anak perempuan seperti mahkota yang bersinar, cerdas dan beruntung. 

walaupun aku melahirkan secara Sectio Cesarean, dikarenakan pada saat aku di induksi sebanyak 3x selama 24 jam tidak ada kontraksi dan bahkan pembukaan, tapi usia kehamilan sudah melewati due date, yakni 41 minggu (10 bulan 1 minggu), keputusan bersama adalah melakukan tindakkan SC demi keselamatan baby K agar tidak terlalu kelamaan didalam perut. 

Kehamilanku selama 10 bulan tidak ada kendala yang berlebihan. aku sangat enjoy, 8 bulan kehamilan aku percayakan kepada dokter Obgyn di MRCCC Siloam Semanggi, dokter Ardiansjah Dara. dokter yang sangat rekomendasi, memahami pasien secara psikolog, sehingga kita yang hamil pertama jadi tidak terlalu panik. terlebih aku, sebagai seorang calon ibu dengan keterbatasan telinga, wajar aku panik. aku bingung secara psikolog, antara siap dan tidak siap menjelang kelahiran. tapi dokter dara selalu tau bagaimana menenangkan pasiennya. 

Tapi, disaat bulan terakhir aku dan suami memutuskan untuk melahirkan dekat dengan mamaku, di bogor. sebuah keputusan yang sangat berat. aku takut, takut tidak menemukan kenyamanan seperti dokter sebelumnya. rasa itu berkecamuk berantakan, sangat takut tapi apa daya aku tidak bisa memaksakan ego. dokter demi dokter aku datangi, seberapa banyak rumah sakit dibogor aku kunjungi. awalnya membuat aku menyerah, tidak juga menemukan dokter obgyn yang membuat aku nyaman. sedangkan usia kandungan semakin berjalan, semakin  panik, siapa yang akan membantu aku saat persalinan nanti?

pada akhirnya, aku mencoba salah satu rumah sakit baru di bogor. Rumah Sakit Mulia, dokternya memang tidak ada yang tau siapa saja. tapi aku tetap berusaha untuk mencari kenyamanan. aku memang memilih dokter dengan generasi muda, aku tidak takut kalo dokter kurang jam terbang tinggi, toh jika ada kasus yang sulit mereka tentu akan berdiskusi dengan senior. menurutku, dokter generasi muda lebih bisa diajak diskusi dan berbincang banyak hal, mencairkan ketegangan. aku memutuskan untuk yakin dengan dokter obgyn Christian Sastra.  awalnya memang canggung, aku harus menjelaskan 8 bulan awal kehamilan, bercerita yang sesungguhnya, keadaan aku yang sebenarnya. apakah dokter christian mengerti dan memahami aku sebagai seorang perempuan yang tidak bisa mendengar? aku masih punya sisa waktu, konsultasi yang biasa sebulan sekali, bahkan 2 minggu sekali menjelang persalinan, aku bahkan seminggu sekali untuk membentuk kenyamanan.

bagiku melahirkan itu antara hidup dan mati. sebelum aku hamil, aku menginginkannya, saat menjelang melahirkan, aku siap bertarung dalam rasa sakit. apapun jalan lahirnya, yang terpenting adalah Baby K lahir dengan sehat dan sempurna. 


aku sangat nervous saat akan masuk ke ruang operasi, karena aku benar2 sangat niat untuk lahiran normal, segala cara aku jalani. tapi aku harus ikhlas, apapun jalan lahirnya. ruangan itu dingiiinnnn, begitu banyak alat-alat kedokteran yang tidak pernah aku lihat seumur hidup. perawat dan dokter semua sibuk. aku bingung, tapi dalam hati semua bacaan surat-surat Alquran aku ucapkan. Yaa Bunaya Ukruj Bidnillah, Wahai anakku keluarlah dengan ijin Allah. 

aku beruntung, dokterku pengertian dan perhatian. dibuatlah team persalinan yang semuanya mengetahui keadaan aku , jadi diinstruksikan jika ingin menyampaikan sesuatu harus lepaskan masker karena aku harus melihat gerakan bibir. dokter Anhestesi sangat baiiiiiiikkk sekali, agar aku tidak tegang ditunjukkan foto2 anaknya, sehingga aku bisa membayangkan kelak anakku akan secantik anaknya. 

pada saat persalinan, dokter Anhestesi meminta untuk aku melepaska alat bantu dengarku karena menggunakan batrei, takut2 nanti ada hal yang bisa berhubungan dengan alat kedokteran lainnya. tapi aku cuman bilang, "ok dok, saya akan lepaskann alat bantu pendengaranku ini, tapi jika anakku sudah lahir, ijinkan aku untuk dipasangkan kembali demi mendengar suara tangis ketika dia lahir dan berada dipelukanku."

Alhamdulilah, Kayla lahir pada tanggal 7 Febuari 2015, jam 10.27 pagi, dengan berat badan 3,6 kg, tinggi badan 52 cm. 


Sempurnanya bidadari kecilku ini :) aku menangis, terharu. aku masih diberi kesempatan untuk mengandung selama berbulan-bulan, merasakan perkembangan kehamilan dan melahirkan seorang bidadari cantik. Subhanallah. 

itu kenapa hingga hari ini dan seterusnya aku selalu merasa rindu, dengan rasa bahagia ini. sakit pasca operasi SC pun aku acuhkan, didnt let pain beat me! aku menahan rintihan rasa sakit demi bisa menimang Baby K dan memberikan ASI. 

aku pun berterima kasih sama suami ku yang selalu standby melewati semuanya, 5 hari di rumah sakit bukan menjadi ketakutan lagi buatku, tapi justru menyenangkan sekali.



Mama papaku pun juga selalu ada, sebagai anak perempuan satu-satunya dan akan melahirkan anak  yang akan menjadi cucu perempuan pertama, mereka tidak meninggalkan aku sedetikpun menjelang persalinan.


Terima Kasih untuk semua yang sudah menjenguk, perhatian yang berlimpah. aku dan baby K sangat bahagia sekaliii :) 


ya kan :) rasa ini tidak akan pernah hilang, aku rindu kembali ke masa-masa itu. tapi sekarang, semua itu akan selalu menjadi kenangan paling indah dalam hidup, yang kelak akan aku ceritakan ke Baby Kayla.. 


With Love,
Mommy Angkie
 

Minggu, 07 Desember 2014

Nujuh Bulanan



gak pernah kebayang dr dulu bisa ngerasain hamil. sebagai perempuan yang berkarir, kerja adalah hobi yang bisa dijalanin kapan aja tanpa beban.

Tapi semenjak ngerasain hamil, berasa banget bawa nyawa kemanapun dan dalam keadaan apapum. terlebih intuisi nya menjadi merasa harus melindungi. 

moment ini adalah nujuh bulanan bareng orang tua, suami, dan mertua. doa dan acara adat yang penuh dukungan, semoga semuanya berjalan lancar. 

sehat dan sempurna ya dede bayi di dalam perut, walaupun aku bukan calon ibu yang sempurna secara fisik, tapi Insya Allah bisa memberikan cinta secara sempurna ❤️❤️

Senin, 27 Oktober 2014

Enjoying the first pregnancy. Bagaimana proses cepat hamil dan menikmati perkembangan setiap bulan :)

Hii ! 

Didn’t to write something for a long time yah. Soalnya akhir-akhir ini aku masih merasa bingung sendiri menghadapi kehamilan pertama ini. (nah kan jadinya curcol) ;p 

As a working woman, bekerja adalah hobi aku yang dengan suka cita aku kerjain setiap tantangannya. Terlebih aku mencoba untuk merintis menjadi sociopreneur dan sedang menantang diri untuk menjadi entrepreneur yang bisa saling mensupport..


Sekarang ini usia kehamilanku udah 25 minggu, dan itu udah 6 bulan lebih. Aku bersyukur termasuk yang beruntung mendapat rezeki hamil cepet setelah menikah (kata obgynku, aku cuman kosong 15 hari #ups! ). Well, gak disangka ya, itu kenapa aku berusaha untuk menjaga sebaik mungkin. Aku mulai dari sayang sama diri aku, dengan mengurangi waktu untuk bekerja dan menikmati moment kehamilan ini.

Walaupun aku suka kangen dengan masa-masa kesibukan aku dulu. Bisa dibayangin kan selama aku merintis Thisable Entreprise, dalam sehari aku bisa menghabiskan waktu 3-4x meeting dan beberapa interview media, dan juga menghandle team aku untuk bisa bekerja dengan solid. Berbulan-bulan menyiapkan Public Relations event. Dan semua itu aku lakukan dengan seneng banget. Bertemu dengan banyak orang baru, dan bahkan mengasah kreatifitas dengan membuat program-program kerja.

Tapi aku berusaha untuk menahan ego. Bukankah menikah dan memiliki anak itu adalah bagian dari cita-cita setiap perempuan ya? :) Dan tentu semua perempuan menginginkan ini, kenapa aku tidak mensyukuri dan menikmatinya. Masa kehamilan ini, justru membuat aku banyak meluangkan waktu untuk mengevaluasi dan intropeksi diri. Apa yang menjadi kesalahanku dimasa lalu dan bisa lebih baik untuk ke depannya.

Aku ingin sedikit berbagi dengan teman-teman yang hendak menikah dan berencana mendapatkan kehamilan dengan cepet. Tapi ini yang aku lakukan, mungkin hasilnya berbeda dengan masing-masing perempuan. Tapi gak ada salahnya mencoba ya :) 
Sebelum menikah, aku berusaha mungkin untuk gak terlalu capek mengurusi pernikahan. Beruntung aku dibantu sama mamaku dan Wedding Organizer untuk menyiapkan pernikahan. 
Karena aku bisa lebih relax, pikiran tenang dan bisa focus dengan kesehatan. That’s why, aku bahagia dan tenang banget selama rangkaian pernikahan adat jawaku yang berlangsung selama 3 hari. Kebayang kan capeknya, tapi semua berjalan sesuai dengan apa yang menjadi mimpi aku sedari kecil. Untuk kita sebagai perempuan, mengecek kapan waktu kita menstruasi dan selesai itu wajib banget bagi yang mau nikah, karena kita bisa mengetahui kapan masa suburnya (padahal dulu aku cuek banget).

Jadwal aku menstruasi kurang lebih 2 minggu after nikah, dan aku juga download aplikasi masa subur di Iphone, nama aplikasinya “Maybe Baby”, jadi disitu kita bisa tahu kapan masa- masa produktif untuk make a baby :) masa subur kita kan cuman kurang lebih seminggu-an, jadi jangan menyia-nyiakan itu ya, even kita lagi capeeeekk banget karena banyak kerjaan. Selain itu, aku juga rutin setiap pagi minum folic acid atau asam folat, yang membantu kita meningkatkan peluang untuk hamil, manfaatnya adalah dapat membantu memperkuat sel telur. Mereknya macam-macam, tergantung kecocokan kita ya. Kalo aku menggunakan brand dari Nature’s Plus yang kita bisa temuin di drug store seperti guardian atau century. Yang rutin tiap pagi ya mom-to be. 



Sewaktu honeymoon, aku dan suami sepesawat dengan bapak yang baiiiik banget, beliau sangat kebapakan dan memberi banyak masukan. Beliau tau aku dan suami sedang mau Honeymoon, dan beliau berpesan bahwa saat melakukan sesudah hubungan suami-istri jangan lupa wudhu dan berdoa. Well, it works loh! aku dan suami selalu wudhu dan berdoa setelahnya, karena kita niat, banget mudah-mudahan doa kami berdua juga dikabulkan.

Yeah! The test pack is POSITIVE!

Suatu pagi, suamiku merasa ada gejala-gejala yang berubah. Sebagai perempuan yang mengalami hormon yang meningkat. Biasanya (maaf), payudara kita akan berubah, jauh lebih kenceng dari sebelumnya. Hari itu juga aku dan suami beli test pack daaaan gak nanggung- nanggung kita beli 5 sekaligus, hahahah! Itu untuk memastikan bahwa kalo ada yang eror kita coba lagi.Dan aku coba 5 hari setiap pagi.Hasilnya? POSITIVE!! 2garis strips yang bikin deg-degan. Awalnya memang samar-samar. Coba lagi besok-besoknya dan semakin terlihat. Aku langsung ke nanya temen-temenku untuk dokter kandungan yang rekomendasi. Ternyata masing-masing perempuan memiliki dokter kadungan yang berbeda-beda tergantung dengan kenyamanannya. Kalo aku cobain semua nama-nama dokter itu dan sudah pasti akan aku google untuk mencari tahu lebih jauh mengenai dokter yang dituju.

Saat aku ke dokter, usia kandunganku sekitar 7 minggu, which means udah hampir 2 bulan. Menurut dokter, perhitungannya adalah pada saat hari pertama menstruasi. Wow! Luar biasa ya. Akupun gak disangka. Dengan segala banyak hal yang aku jalanin selama hidup, Allah Maha Baik sekali sama aku. Mempercayakan untuk meniupkan nafas di dalam kandungan.



Hebatnya selama trisemester pertama, aku gak muntah sama sekali. Tipsnya aku dapet dari dokter kandunganku, Dr. Ardiansjah Dara, dari MRCCC Siloam Semanggi Jakarta. Beliau mengatakan bahwa, untuk sementara jangan makan terlalu pedes dan jangan terlalu asem terlebiiihhhh jangans sampai juga telat makan. Pesannya cuman itu saja. Karena itu memacu asam lambung kita, yang mengakibatkan kita selalu muntah, dan apabila kita muntah sekaliii saja, dan itu tidak bisa ditahankan lagi, seterusnya akan muntah. Soooo, aku coba untuk disiplin itu, walaupun aku suka banget makan yang asem dan pedes tapi gak mau berlebihan. Sesering mungkin aku akan makan walau porsinya sedikit, dan tidaka kan membiarkan perutku kosong. Hasilnya, aku gak muntah selama trisemester pertama :) *happy!*

It’s amazing! 

Silahkan di coba ya, aku selalu mendoakan siapapun yang ingin memiliki anak agar terkabulkan. Aku bahagia lahir batin, walaupun ada masa-masa hormon yang bikin aku rapuh. Tapi itu semua terhibur dari bulan ke bulan apalagi saat merasakan jantung dan gerakan bayi di dalam perut.

Aku bilang sama dokterku, aku mencari dokter yang memahami kondisi aku sebagai seorang Hard of Hearing. Aku bisa berkomunikasi dengan menggunakan gerakan bibir. Memberikan tips dan trik supaya aku bisa berfikir positive. 

Dan satu hal lagi, aku masih ingin bisa mendengarkan suara bayi ketika lahir nanti. 
Itu cita-cita ku yang gak bisa diganti dengan apapun sebagai perempuan berkebutuhan khusus.

Truthfully, being pregnant is changing me as a person. Each day is part of this amazing journey that has completely shifted the focus of my life and made me reevaluate my personal and professional goals.

Have a Splendid day mom-to-be

LOVE,
Angkie Yudistia